Komunikasi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Oleh : Yeskial Missa
KOMUNIKASI PEMBELAJARAN PAK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam pembelajaran terjadi sebuah komunikasi, yakni antara guru dengan peserta didik. “Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setia manusia, baik yang primitif maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu-individu lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup” (Rakhmat, 1998:1).
Dalam setiap komunikasi, manusia saling menyampaikan informasi yang dapat berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan, maupun emosi secara langsung. Kegiatan komunikasi ini berlangsung dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, selama manusia hidup dan selama melakukan aktivitasnya. Jika diamati disekitar, manusia akan melihat bahwa komunikasi merupakan aktivitas yang paling penting dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Bahkan dapat dipastikan, di mana manusia hidup bersama-sama dengan orang lain maka di sana selalu ada kegiatan komunikasi, karena komunikasi merupakan kebutuhan hidup manusia.
Komunikasi dalam pembelajaran dewasa ini mendpatkan perhatian yang luar biasa. Hal ini dilatarbelakangi pentingnya memilih car komunikasi dalam proses pembelajaran PAK agar kegiatan tersebut mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Komunikasi yang efektif berkorelasi dengan tingkat keberhasilan pembelajaran. Kemampuan untuk melakukan komunikasi yang efektif merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai oleh seseorang guru, hal ini sebagaimana tercantum dalam dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Guru sebagai learning agent berkewajiban memiliki kualifikasi akademik yang diperoleh melalui perguruan tinggi yang terakreditasi (S1/D4) dan memiliki 4 kompetensi. Salah satunya adalah kompetensi sosial, yakni kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peseta didik dan masyarakat sekitar.
Membangun komunikasi dalam proses pembelajaran PAK merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk mewujudkan proses pembelajan PAK yang efektif. Karena, tanpa adanya komunikasi tidak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar, karena komunikasi adalah kunci utama untuk berinteraksi antara guru dengan peserta didik. Komunikasi bukan berarti hanya berinteraksi dengan menggunakan bahasa tulis dan bahasa isyarat atau gerak tubuh.
Selain itu, sering dikatakan bahwa proses pembelajaran PAK merupakan proses komunikasi dimana terjadi proses penyampaian pesan tertentu dari sumber belajar (misalnya Guru, instruksi, media pembelajaran, dan lain-lain). Dengan tujuan agar pesan (berupa topik-topik dalam mata pelajaran PAK) dapat diterima (menjadi milik, dishared) oleh peserta didik. Dalam pembelajaran PAK terjadi proses komuniasi untuk menyampaikan pesan dapat diterima dengan baik dan berpengaruh terhadap pemahaman serta perubahan tingkah laku. Dengan demikian keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat tergantung kepada efektiftas proses komuniasi yang terjadi dalam pembelajaran tersebut.
Pembelajaran PAK yang baik dan efektif akan memberikan ruang dan peluang agar anak dapat belajar lebih aktif serta dapat mengeksplorasi keingintahuan melalui kemampuan/potensi yang dimilikinya, dan hal ini memerlukan bantuan/bimbingan yang baik dan tepat dari guru/pendidik dan disertai kearifan professional. Melihat betapa pentingnya komunikasi dalam proses pembelajaran PAK, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai pengembangan komunikasi pembelajaran PAK dan hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi pembelajaran.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat dirumuskan malasah dalam pembelajaran PAK sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari Komunikasi Pembelajaran PAK ?
2. Apa Fungsi dari Komunikasi Pembelajaran PAK ?
3. Apa saja Prinsip dari Komunikasi Pembelajaran PAK ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian komunikasi Pembelajaran PAK.
2. Untuk mengetahui fungsi komunikasi pembelajaran PAK
3. Untuk mengetahui Prinsip Komunikasi pembelajaran.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1. KOMUNIKASI PEMBELAJARAN PAK
2.1.1. PENGETIAN KOMUNIKASI
Menurut Hardjana, sebagaiman dikutip oleh Endang Lestari G (2003) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu Cum, sebuah kata depan yang artinya dengan, dan kata Umus, sebuah kata bilangan yang berarti satu. Dua kata tersebut membentuk kata benda Cummunio, yang dalam bahasa inggris disebut Cummunion, yang mempunyai makna kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat kata kerja communicare yang berarti ,e,bagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan atau berteman. Dengan demikian, komunikasi mempunyai makna pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.
Evertt M. Rogers mendifinisikan komunikasi sebagai proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat senada dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang di dalamnya menunjukan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mncapai beberapa tujuan khusus. Selain defenisi yang telah disebutkan diatas, pemikir komunikasi yang cukup terkenal yaitu Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih detail. Menurutnya, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima. (Suranto, 2005).
Dari beberapa definisi si atas dapat penulis pahami bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi. Kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan atau informaso dan cara menyampaikannya.
2.1.2. PENGERTIAN PEMBELAJARAN
Sardiman AM (2005) dalam bukunya yang berjudul “Interaksi dan Motivasi dalam pembelajaran” menyebut istilah pembelajaran dengan interaksi eduktif. Menurutnya, yang dianggap interaksi eduktif adalah interaksi yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik ke arah kedewasaannya.
Menurut Corey (1986,195) pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disebgaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembekajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono (1999,297) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat peserta didik belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkunagn belajar. Definisi ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Oemar Hamalik, bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks, dimana di dalamnya terjasi interaksi antara mengajar dan belajar. Proses pembelajaran aktifitasnya dalam bentuk interaksi yang sadar akan tujuan, artinya interaksi yang telah dicanangkan untuk suatu tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan pada suatu pelajaran. Menurut Knirk dan Gustafon (1986,5) pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan sudah melalui tahapan perancangan pembelajaran.
Dari beberapa defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi edukatif untuk membuat peserta didik belajar secara aktif dan mampu mengubah perilaku melalui pengalaman belajar.
2.1.3. PENGERTIAN PAK
E.G Homrighausen mengatakan bahwa Pendidikan Agama Kristen berpangkal pada persekutuan umat Tuhan. Dalam perjanjian lama pada hakekatnya dasar-dasra terdapat pada sejarah suci purbakala, bahwa Pendidikan Agama Kristen itu mulai sejal terpanggilnya Abraham menjadi nenek moyang umat pilihan Tuhan, bahkan bertumpu pada Allah sendiri karena Allah menjadi peserta didik bagu umat-Nya.
Menurut Warner C. Graedorf, PAK adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung kepada Roh Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini ke arah pengenalam dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan para murid”.
Menurut Martin Luther (1483-1548) PAK adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam Firman Yesus Kristus yang memerdekakan. Di samping itu PAK memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa, Firman tertulis (Alkitab dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan Negara serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.
Jhon Calvin (1509-1664) mengatakan bahwa PAK adalah pendidikan yang bertujuan mendidik semua putra-putri gereja agar mereka:
1. Terlibat dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dengan bimmbingan Roh Kudus.
2. Mengambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaan gereja.
3. Diperlengkapi untuk memilih cara-cara mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah dan kemuliaanNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.
Dari beberapa definsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa PAK adalah suatu proses pembelajar untuk umat Tuhan yang didasarkan pada Alkitab. PAK juga dapat berkaitan dengan pengalaman iman sesorang dalam kehidupannya sehari-hari.
2.1.4. PENGERTIAN KOMUNIKASI PEMBELAJARAN PAK
Komunikasi pembelajaran PAK adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain supaya mencapai keberhasilan dlama mengirim pesan kepada umat Tuhan atau peserta didi secara efektif dan efisien.
Dalam kegiatan pembelajaran PAK komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta didik. Kefektifan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh ketrampilannya dalam melakukan komunikasi ini. Terkait dengan proses pembelejaran PAK, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran PAK dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif. Dilihat dari prosesnya, komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi Verbal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Sedangkan, komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak gerik, gambar, lambang, mimik muka, dan selanjutnya.
Sebagai komunikator atau mediator, guru harus menyadari bahwa sekolah berada di tengah-tengah masyarakat, karenanya sekolah tidak boleh menjadi “menara gading” yang jauh dan terasing dari masyarakat. Sekolah didirikan mengemban amanat dan aspirasi masyarakat (dan peserta didik adalah anak-anak dan sekaligus sebagai bagian dari anggota komunitas masyarakat). Menghindari persolana tersebut, maka guru harus memerankan dirinya untuk mampu menjadi “bridging” (menjambatani) atau menjadi mediator antara sekolah dan masyarakat melalui upaya cerdas dalam memilih dan menggunakan pola, pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang memungkinkan saling menguntungkan antara keduanya. Jadi masyarakat, lembaga, peristiwa, benda, situasi, kebudayaan, serta industry sebagai sumber belajar bagi peserta didik.
2.2. FUNGSI KOMUNIKASI PEMBELAJARAN
Menurut Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson, komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi: keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.
Sedangkan menurut Willian I.Gordon, komunikasi pembelajaran mempunyai empat fungsi, yakni:
2.2.1 FUNGSI KOMUNIKASI SOSIAL
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia akan hilang, karena ia tidak punya waktu untuk mengatur diri mereka sendiri dalam lingkungan sosial. Tanpa terlibat dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimana, makan, minum, berbicara sebagai manusia beradab (memperlakukan manusia lainnya).
2.2.2 PEMBENTUKAN KONSEP DIRI
Konsep diri adalah pandangan tentang siapa, dan yang hanya dapat diperoleh melalui informasi orang lain yang diberikan kepada manusia. Manusia yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lain mungkin tidak menyadari bahwa ia adalah seorang laki-laki. Manusia menyadari bahwa keberadaan manusia ada disekitar karena orang di sekitar menunjukan melalui perilaku mereka.
Anda mencintai diri sendiri jika anda memiliki cinta, anda berpikir anda pintar ketika orang di sekitar anda menganggap anda cerdas, anda meras anda tampan atau cantik ketika ornag di sekita anda mengatakan begitu. Konsep diri awal umumnya dipengaruhi oleh keluarga dan orang-orang terdekat di sekitar, termasuk kerabat. Orang tau, atau siapa pun yang peduli untuk pertama kalinya, mengatakan melalui kata-kata dan tindakan yang dilakukan.
Orang berkomunikasi untuk menunjukan dirinya eksis.
Ini disebut aktualisasi diri atau lebih tepatnya keberadaan itu sendiri. Fungsi komunikasi sebagai eksistensi diri sering terlihat dalam seminar. Meskipun penanya telah memperingatkan moderator untuk berbicara singkat dan langsung ke pokok masalah, pena atau komentator sering berbicara panjang lebar, mengajarkan penonton, dengan argumen yang tidak relevan. Karena mereka merasa paling benar dan yang paling penting, semua orang ingin berbicara dan didengar.
Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan.
Sejak lahir, manusia tidak bisa hidup sendiri untuk memperoleh hidup. Manusia perlu berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis seperti makan dan minum, dan memenuhi kebutuhan psikologis seperti sukses dan kebahagiaan. Komunikasi, dalam konteks apapun, adalah bentuk dasar adaptasi terhdapa lingkungan.
Melalui komunikasi manusia juga bisa memenuhi kebutuhan emosional dan meningkatkan kesehatan mental. Manusia belajar makna cinta, kasih sayang, keintiman, simpati, rasa hormat, kebanggaan, dan bahkan iri hati, dan kebencian. Melalui komunikasi sosial, manusia dapat mengalami berbagai perasaan dan membandingkan kualitas perasaan satu dengan perasaan orang lain.
2.2.3 KOMUNIKASI EKSPRESIF
Komunikasi ekspresif sering dilakukan untuk menyampaikan perasaan-perasaan manusia. Kebanyakan komunikasi ini disampaikan dalam bentuk nonverbal. Ungkapan kasih sayang, marah, atau malu memang dapat disampaikan oleh kata-kata. Namun, paling besar dikomunikasikan lewat bahasa tubuh. Orang boleh mengatakan “saya tak marah”, padahal mukanya merah, tampang cemberut, dan pandangan matanya tajam. Orang akan lebih percaya bahasa nonverbal itu, daripada bahasa verbal. Komunikasi ekspresif nanti tentu akan mempengaruhi komunikasi sosial seseorang.
2.2.4 KOMUNIKASI RITUAL
Fungsi komunikasi ini berhubungan dengan komunikasi ekspresif. Namun bentuk penyampaiannya seringkali secara koolektif. Misalnya upacara perkawinan, ritual keagamaan, sampai memperingati tanggal bersejarah. Mereka yang terlibat dalam komunikasi ritual dianggap berusaha menegaskan sebagai bagian dari kelompok yang merayakannya. Komunikasi ritual juga dianggap sebagai komitmen indiviu terhadap tradisi dalam kehidupan sosialnya.
Seseorang yang baru masuk dalam lingkungan sosail baru cenderung harus melakukan komunikasi ritual yang baru. Mereka seolah diwajibkan untuk melakukan komunikasi ini untuk menunjukan bahwa mereka memang siap dan akan bergabung dalam lingkungan baru ini. Misalnya mahapeserta didik baru harus melakukan “pengenalan” atau yang sering disebut ospek.
Selain untuk komitemn emosional individu, komunikasi ritual jugasering digunakan untuk mempererat kepaduan dalam suatu kelompok. Komunikasi ritual akan menciptakan rasa nyaman dan perasaan tertib. Menurut Deddy Mulyana, bukan substansi kegiatan ritual yang paling penting, namun perasaan senasib dan sepenanggungan yang menyertai komunikasi ini. Deddy juga menganggap hal ini menandakan bahwa manuasia bukanlah sepenuhnya makhluk rasional. Karena komunikasi ritual sering dianggap mubazir jika ditimbangkan komunikasi ritual, walau tujuannya berbeda-beda. Misalnya, demi memenuhi kebutuhan jati diri, sebagai anggota dari komunitas, atau menciptakan rasa kondusif dan tentram.
2.2.5. KOMUNIKASI INSTRUMENTAL
Komunikasi yang berfungsi sebagai komunikasi instrumental adalah komunikasi yang berfungsi untuk memberitahukan atau menerangkan (to inform) dan mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa fakta dan informasi yang disampaikan adalah akurat dan layak untk diketahui.
Dengan demikian, fungsi komunikasi instrumental bertujuaj untuk menerangkan, mengajar, menginformasikan, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga untuk menghibur. Sebagai instrumen, komunikasi tidak saja manusia gunakan untuk menciptakan dan membangun hubungan, namun juga untuk menhancurkan hubungan tersebut.
Komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek misalnya untuk memperoleh pujian, menumbuhkan kesan yang baik, memperoleh simpati, empati, keuntungan material, ekonomi dan politik, yang antara lain dapat diraih dengan pengelolaan kesan (impression mangement), yakni taktik-taktik verbal dan nonverbal, seperti berbicara sopan, mengobral janji, dan sbagainya yang pada dasarnya untuk menunjukkan kepada orang lain siapa diri sendiri seperti yang diinginkan. Sementara itu, tujuan jangka panjang dapat diraih lewat keahlian komunikasi, misalnya keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing ataupun keahlian menulis. Kedua tujuan itu tentu saja saling berkaitan dalam arti bahwa pengelolaan kesan itu secara kumulatif dapat digunakan untuk mencapkai tujuan jangka panjang berupa keberhasilan dalam karier, misalnya untuk memperolwh jabatan, kekuasaan, penghormatan sosial dan kekayaan.
2.3. PRINSIP KOMUNIKASI PEMBELAJARAN
2.3.1. Respect
Prinsip pertama dalam mengembangkan komuniikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang akan menjadi sasaran pesan yang disampaikan. Guru dituntut dapat memahami bahwa ia harus bisa menghargai setiap peserta didik yang akan dihadapinya. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan prnsip yang pertama dalam komunikasi dengan ornag lain karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati akan dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang dapat meningkatkan efektivitas kinerja guru baik secara individu maupun secara keseluruhan sebagai tim.
Salah satu prinsip paling dalam sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai. Penghargaan terhadap individu adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan sehingga setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati tersebut akan menggenggam orang dalam telapak tangannya. Selain itu penghargaan yang tulus terhadap individu dapat membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal-hal terbaik. guru yang memberikan penghargaan secara tulus kepada para murid maka akan dihargai pula oleh muridnya dan menjadikan proses pembelajaran menjadi sebuah proses yang menyenangkan bagi semua pihak.
2.3.2 Emphaty
Empaty adalah kemampuan manusia untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan manusia mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Dengan memahami dan mendengarkan orang lain terlebih dahulu, manusia dapat membangun kerja sama atau sinergi dengan orang lain.
Rasa empati akan memaksimalkan dalam menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Komunikasi di dunia pendidikan diperlukan saling memahami dan mengerti keberadaan, perilaku dan keinginan peserta didik. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun suasana kondusif di dalam proses pembelajaran. Jadi sebelum manusia membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, manusia perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan. Sehingga nantinya pesan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologi atau penolakan dari penerima.
2.3.3 Audible
Prinsip audible berarti adalah dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Berbeda dengan prinsip yang kedua yakni empati dimana guru harus mengdengarkan terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik, maka audible adalah menjamin bahwa pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penerima pesan dengan baik. Dalam rangka mencapai hal tersebut maka pesan harus disampaikan melalui media (delivery channel) sehingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hal itu menuntut kemampuan guru dalam menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio-visual yang dapat membantu supaya pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.
2.3.4 Clarity
Prinsip clarity adalah kejelasan dari isi pesan supaya tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai macam penafsiran. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi manusia perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau tersembunyi), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan sntusiasme pesertaa didik dalam proses pembelajaran. Dengan cara seperti ini peseta didik tidak akan menganggap lagi proses pembelajaran sebagai sebuah kebutuhan pokok bagi kehidupannya.
2.3.5 Humble
Prinsip kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasadari oleh sikpa rendah hati yang dimiliki. Kerendahan hati merupakan suatu cara agar orang lain merasa nyaman (care) karena ia merasa sejajar sehingga memudahkan komunikasi dalam dua arah. Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran sangat berdampak terhadap keberhasilan pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan peserta didik, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran tersebut berhasil.
2.4 ANALISIS WACANA
Sehubungan dengan hal tersebut, maka pengajar, pendidik, atau instruktur pada lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Kemampuan komunikasi yang dimaksud dapat berupakemampuan memahami dan mendesain informasi, memilih dan menggunakan saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran sebagai subset dari proses pendidikan harus mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, yang pada ujungnya akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Agar pembelajaran dapat mendudkung peningkatan mutu pendidikan, maka dalam proses pembelajaran harus terjadi komunikasi yang efektif, yang mampu memberikan kefahaman mendalam kepada peserta didik atas pesan atau materi belajar.
Komunikasi yang dikatakan efektif dalam pembelajaran apabila terdapat aliran informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan peserta didik dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut. Setidaknya terdapat lima aspek menurut Abdul Majid (2013) yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu: (1) Kejelasan, hal ini dimaksudkan bahwa dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan. (2) Ketetapan, ketetapan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan. (3) Knteks, konteks atau sering disering disebut dengan situasi, maksudnya adalah bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. (4) alur, bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap. (5) Budaya, aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan dengan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan buaday orang yang diajak berkomunikasi karena para peserta didik juga terlahir dari budaya yang berbeda, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi.
Menurut Santoso Sastropoetro (dalam Riyono Pratikno, 1987) berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan “The communication is in tune”. Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat: (1) menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan, (2) menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti, (3) pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat pihak komunikan, (4) pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan, dan (5) pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.
Terkait dengan mengembangkan komunikasi pembelajaran PAK, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang dalam hal ini adalah materi pelajaran dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif bagi peserta didik. Komunikasi yang efektif dalam pembelajarn PAK harus didukung dengan ketrampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara formal antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara kedua belah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai ketrampilan komunikasi antar pribadi.
Dalam kegiatan pembelajaran PAK, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dan peserta didik. Kefektifan komunikasi dalam kegiatam pembelajaran PAK sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena pengajar yang memegang kendali kelas, maka tanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas yang sehat dan efektif terletak pada tangan pengajar. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh ketrampilannya dalam melakukan komunikasi ini.
BAB III
REFLEKSI/PEMEHAMAN ANDA TENTANG PEMBELAJARAN
Pandangan penulis tentang komunikasi pembelajaran PAK; Dalam dunia pendidikan proses pembelajaran akan efektif, jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara insentif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Dalam pembelajaran PAK di kelas proses komunikasi akan berlangsung baik antara guru ke siswa dalam hal ini peserta didik atau sebaliknya antara peserta didik dengan guru atau pendidik. Dan materi pelajaran merupakan pesan dalam proses komunikasi pembelajaran yang sering dipandang sebagai jantung atau inti kegiatan pembelajaran.
Dalam Komunikasi pembelajaran PAK terjadi interaksi edukatif yang berlangsung dalam bentuk pertukaran pesan yang tidak lain adalah materi pelajaran. Dalam konteks komunikasi, pembelajaran Guru ditempatkan dalam posisi sebagai komunikator oleh karena tugas dan peran guru sebagai pemimpin pelajaran sedangkan siswa ditempatkan sebagai komunikan atau peserta didik.
Dalam proses komunikasi pembelajaran PAK dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut:
1. Simbol, yang artinya sertiap kegiatan komunikasi melibatkan simbol-simbol seperti pesan lisan, tulisan dan pesan nonverbal. Guru menyampaikan pelajaran melalui bahasa lisan dan tertulis. Guru juga menggunakan pesan nonverbal seperti gerak tangan untuk memperjelas dan mempertegas pesan yang disampaikan. Siswa yang menerima pesan mencatat bagian tertentu dari uraian guru.
2. Dinamis, yang artinya proses komunikasi itu berubah secara kontinyu yang memungkinkan dilakukanya adaptasi pesan demi efektifitas komunikasi.
3. Bisa dipahami, artinya pesan yang disampaikan bisa dipahami oleh penerimanya. Ciri komunikasi yang efektif adalah pesan yang sampaikan bisa dipahami, sehingga bisa memaknai bahwa pembelajaran yang efektif adalah komunikasi yang efektif.
4. Unik, artinya setiap proses pembelajaran selalu melibatkan setidaknya dua orang dengan jeunikan pribadinya masing-masing. Ada orang yang senang humor, ada yang senang membaca, ini semua akan berdampak pada proses komunikasi yang berlangsung dalam komunikasi pembelajaran.
Proses komunikasi pembelajaran PAK juga memiliki tujuan karena pembelajaran melahirkan manusia yang baik, maka komunikasi efetifnya adalah melakukan komunikasi pembelajaran yang dapat mencapai tujuan tersebut secara tepat. Dalam komunikasi eduktif ada tiga level komunikasi yang berlangsung yaitu komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok dan komunikasi publik. Tujuan pembelajaran PAK akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Jika prosesnya tidak komunikatif tidak mungkin tujuan pendidikan itu akan akan tercapai. Proses pembelajaran akan efektif jika, komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara insentif.
Guru juga mempunyai peran gandan dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa. Peran ganda yang dimaksud sebagai berikut:
1. Guru sebagai Guru, pekerjaan utama guru adalah mengajar dan mendidik siswa-siswa, yang berusaha agar semua siswanya mempu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diajarkan dengan baik.
2. Guru sebagai Orang Tua, Tempat mencurahkan segala perasaan siswa, tempat mengadu siswa ketika mengalami gangguan. Siswa merasa aman dan nyaman ketika dekat dengan guru, bahkan merasa rindu jika tidak bertemu guru. Interaksi guru dan siswa bagaikan hubungan orang tua dan anak, hangat, akrab, harmonis, dan tulus. Peran guru sebagai orang tua dilakukan di lingkungan sekolah lebih bersifat hubungan emosional dan penyertaan persasaan guru dan siswa. Siswa akan merasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Interaksi lebih berdasarkan kasih sayang dan saling pengertian oleh karenanya keterbukaan siswa dalam hal permasalahan pribadi maupun masalah yang berhubungan dengan pembelajaran dapat terungkap.
3. Guru sebagai teman sejawat, sebagai pasangan untuk berbagi pengalaman dan beradu argumentasi dalam diskusi secara informal. Guru tidak merasa direndahkan jika siswa tidak sependapat, atau memang pendapat siswa yang benar, dan meneria saran siswa murid yang masuk akal. Hubungan guru dan siswa mengutamakan nilai-nilai denokratis dalam proses pembelajaran.
Guru sebagai komunikator tentu akan mengharapkan komunikasi pembelajaran berlangsung secara efektif, artinya terjadi interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran dimana guru menaruh kepeduliannya terhadapt siswa yaitu: (1) guru yang peduli pada diriny, (2) guru yang peduli pada tugasnya sebagai pendidik; dan (3)guru yang peduli dampak pembelajaran pada siswa. Ketiga ketegori ini berdampak pada perilaku komunikasinya yakni guru yang peduli pada dirinya berupaya membangun kredibilitasnya dengan membuka siapa dirinya dengan mengkomunikasikan bahwa guru juga manusia, memiliki niat baik dan memiliki kompetensi. Sedangkan fleksibelnya tampak dalam pemberian tugas dan perubahan jadwal serta membelajarkan kembali konsep dalam pelajarannya. Guru yang peduli dirinya akan berusaha menjadi orang yang biasa diterima, kredibel, disukai dan dihormati.
Sedangkan guru yang peduli pada tugasnya akan mengupayakan dan menemukan cara terbaik untuk membuat konsep-konsep yang abstrak menjadi nyata. Guru ini biasanya banyak memberi contoh dan memiliki kamapuan untuk memimpin diskusi secara efektif dan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat. Guru yang lebih mengutamakan tugasnya akan lebih memperhatikan bagaimana kinerjanya.
Adapun dampak pembelajaran akan berupaya untuk memfasilitasi pemahaman kepaga para siswanya dan membangun lingkungan pembelajaran yang tidak menakutkan. Guru seprti ini berkomunikasi dengan memberikan strujtur pembelajaran yang jelas dan terorganisasi serta melalui diskusi. Sedangkan lingkungan pembelajaran yang tidak menakutkan dibangun dengan cara guru melakukan peneguhan (reinforcement), membuka diri, menguji pemahaman dan menyatakan dengan jelas apa yang diharapkan dari pembelajarannya.
Pada setiap komponen sebagai subsitem dari sitem komunikasi pembelajaran, juga berlangsung komunikasi. Namun komunikasi tersebut biasa berlangsung untuk mencapai pembelajaran dan tujuan pendidikan. Misalnya di antara siswa ada komunikasi saat mendiskusikan materi pelajaran. Komunikasi memang memainkan peran penting dalam pembelajaran. Apalagi bila kita memandang proses pembelajaran sebagai proses sosial, kita akan berupaya membangun suasana pembelajaran yang mendorong terjadinya interaksi yang baik antara guru dan siswa.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Komunikasi pembelajaran adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain supaya mencapai keberhasilan dalam mengirim pesan kepada yang dituju secara efekti dan efisien. Komunikasi pembelajaran PAK merupakan interaksi umat manusia dengan Sang Pencipta dan juga sesama yang didasarkan pada Alkitab. Menurut William I. Gordon, komunikasi pembelajaran mempunyai empat fungsi menurut kerangka yang dikemukakan yakni: fungsi komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual dan fungsi komunkasi instrumental. Prinsip komunikasi ada 5, yaitu: respect, emphaty, audible, clarity, humble. Komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran sangat berdampak terhadap keberhasian pencapaian tujuan. Komunikasi dikatakan efektif apabila terdapat aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan hatapan kedua pelaku komunikasi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Adang H, Darmajari, Arip S (2012) Metodologi pembelajaran kajian teoritis praktis. LP3G (Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru) banten.
Arsyad, A (2006). Media Pembelajaran. PT RajaGrafindo Persada Jakarta.
Didi S, Deni D (2012), Komunikasi Pembelajaran. PT Remaja Rosda Karya Bandung.
http://sitiyuliana91.blogspot.com, diundah 15 Mei 2020.
http://ryochae.blogspot.com/2013/05/interaksi-edukatif-dalam-proses.html, diundah 15 Mei 2020.
Iriantar, Yasol (2014). Komunikasi pembelajaran (Interaksi komunikatif dan edukatif di dalam kelas). PT Remaja Rosdakrya Bandung.
Lase Jason (2005). Pendidikan Agama Kristen. Bina media Informasi Bandung.
Mulyana, D (2005). Komunikasi suatu pengantar. PT Remaja Rosdakarya Bandung.
Santoso, Magdalena P (2005). Karakteristik Pendidikan Kristen. Veriates. Vol. 6 (2): 291-306.
Syaiful Sagal (2005), Konsep dan makna pembelajarn, Alfabeta Bandung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar